Rabu, 29 Mei 2024
  • Yayasan Gema Insan Amanah - Berani Berkarya Untuk Bersama

Puasa Tasua dan Asyura: Menggapai Hikmah dan Kedekatan dengan Sang Pencipta

Puasa Tasu’a dan Asyura adalah dua peristiwa bersejarah yang menandai awal bulan Muharram dalam agama Islam. Puasa Tasu’a jatuh pada tanggal sembilan Muharram, diikuti oleh Puasa Asyura pada tanggal sepuluh Muharram. Kedua puasa ini memiliki makna mendalam dan berharga bagi kaum Muslim.

Peristiwa Puasa Tasu’a dan Asyura menarik perhatian karena menceritakan kisah-kisah epik dari masa lalu yang memiliki pesan universal. Puasa Tasu’a mengenang penyelamatan Nabi Musa (AS) dan Bani Israel dari Firaun, sementara Puasa Asyura menggambarkan kemenangan mereka saat melintasi Laut Merah. Kisah-kisah ini mengajarkan keberanian, kesabaran, dan kepercayaan pada kekuasaan Allah.

Makna yang terkandung dalam Puasa Tasu’a dan Asyura menarik minat banyak orang, terutama umat Muslim, yang mencari inspirasi dan kedekatan dengan agama mereka. Peristiwa ini mengajarkan nilai-nilai kebajikan, seperti keadilan, kasih sayang, dan solidaritas. Kisah Nabi Musa (AS) dan Bani Israel memberikan contoh nyata tentang bagaimana Allah melindungi hamba-Nya yang tulus dan taat.


Dalil pelaksanaan puasa Tasua bersandar pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim sebagaimana termuat dalam Kitab Riyadhus Shalihin karya Imam an-Nawawi. Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,

ولَئِن بَقيتُ إِلَى قَابِل لَأَصُومَنُ التَّاسِعَ

Artinya: “Seandainya aku masih hidup sampai tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada tanggal sembilan Muharram.” (HR Muslim)

Imam an-Nawawi dalam Syarah Riyadhus Shalihin mengatakan, anjuran puasa tanggal 9 Muharram ini untuk membedakan puasanya orang Yahudi yang hanya mengkhususkan puasa tanggal 10 Muharram. Sehingga, puasanya umat Islam dikerjakan pada tanggal 9 dan 10 Muharram.

Puasa tanggal 10 Muharram disebut dengan puasa Asyura. Keutamaan puasa Asyura adalah dapat menghapus dosa setahun yang lalu.

وَعَنْ أَبِي فَنَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ سُئل عن صيَامِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ: «يُكَفِّرُ السنة الماضية

Artinya: “Dari Abu Qatadah RA bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa hari Asyura. Beliau menjawab, ‘Puasa tersebut dapat melebur dosa setahun yang lalu.” (HR Muslim dalam Kitab Puasa bab Anjuran Puasa Asyura Tiga Hari)

Mengetahui keutamaan dan makna Puasa Tasu’a dan Asyura, muncul keinginan kuat bagi umat Muslim untuk mengamalkan ibadah ini. Keinginan untuk meningkatkan kualitas ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah menjadi dorongan utama dalam menjalankan puasa ini. Puasa Tasu’a dan Asyura memberikan kesempatan untuk merenungkan kehidupan masa lalu, memperbaiki diri, dan memperkuat koneksi spiritual dengan Sang Pencipta.

Puasa Tasu’a dan Asyura adalah momen berharga bagi umat Muslim untuk merenungkan kisah-kisah bersejarah yang penuh hikmah. Keinginan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengamalkan nilai-nilai kebajikan dalam kehidupan sehari-hari merupakan langkah konkret yang dapat diambil setelah memahami makna puasa ini. Semoga Puasa Tasu’a dan Asyura menjadi sarana untuk mencapai kedekatan dengan Sang Pencipta dan menginspirasi kita semua menuju kehidupan yang lebih baik dan bermakna.

KELUAR